Ketika hari ini 31 agustus di penghujung bulan dollar menguat terhadap rupiah menjadi 14.865 atau jatuh 22% persen sejak oktober 2014 yaitu di harga 12.100 maka inbox saya penuh dengan komentar. Jadi ke 15.000?
Sebentar sebentar pikiran saya belum nyala, masih loading nih. Kepala saya tadi malam sebelum tidur setelah menyaksikan asian games di GBK untuk atletik pulang jam 11 malam dan terkagum-kagum dengan perak atletik estafet putra asian games untuk indonesia seperti kebiasaan saya menulis diary. Lalu saya mengetik tulisan bisnis tentang NOMOINATOR dan pembagi DENOMINATOR.
Tulisan nominator denominator tersebut terilhami siangnya kami rapat korporasi dimana salah satu usaha kami “bleeding” . Kemarin yang kami lakukan adalah sedang menghitung “nasib” karyawan. Maklum perusahaan ini sudah 20 tahun jalan dan kena masalah dengan BUMNisasi. Usaha kami di sikat BUMN.
Putusannya adalah kami harus mem PHK karyawan. PHK ini pertama di tahun ini karena bisnis tinggal 20%, mudah-mudahan terakhir dan tidak pHK lagi. Bayangkan pemegang saham tidak ada bagi hasil, direksi gajih separuh sudah setahun. Di kirain membaik ekonominya ternyata ngak nyandak.
Untuk proses PHK tersebut memilah dan memilih karyawan mana yang masih ASSET mana yang LIABILITIES. Mana yang masih produktif mana yang menjadi beban ( tidak produktif).
Ini pekerjaan menyebalkan untuk mem PHK karyawan di mana perusahaan sudah minus, ini memang resiko berbisnis di pemerintahan yang tidak pro pengusaha ya begini.
Kejam? Habis manis sepah di buang? Lalu harus bagaimana? Ini hukum alam bukan. Misalnya Pohon di musim kemarau merontokan daunnya hingga tinggal batangnya kalau perlu demi bertahan hidup menunggu musim hujan tiba. Begitu juga bisnis.
Yang di buang itu beban, itu libilities. Liabilitis itu bisa juga di sebut DENOMINATOR.
Keuntungan perusahan di dapat oleh aset produktif yang nama lainnya nominator. Kalau nominator mengecil, pembaginya besar, rugi lah perusahaan tersebut, benar bukan? Maka kecilkan denominatornya. Pangkas itu ada potong gajih, ada juga strategi turunkan biaya jadi efisien ada juga PHK.
Baik, ini adalah tulisan sederhana untuk memahami bisnis itu science dan kita belum masuk pelajaran filosofinya loh ya. Apa lagi pelajaran nya. Ini masih triller supaya faham. Sementara urusan dolar yang saya katakan jadi 15.000 saya mengatakannya di bulan februari. Mengapa saya tahu?
Salah satunya karena tahu pengurus ekonomi negara ini tidak faham perubahan jaman, dan perubahan ekonomi makro dunia. Kembali saya katakan, di 23 september 2018, 3 minggu lagi loh ini, amerika akan menaikan lagi suku bunga dolar. Amerika sudah kode keras hal itu minggu lalu.
Tapi karena pejabat ekonomi “ora nyandak” ilmu nya, ya bingung mau di apain. Sampai sekarang masih “wondering what happen”. Ya ngak ngapa-ngapain, otopilot aja.
Kalau saya dari awal sudah tahu bahwa pilihan pejabat ekonominya ngak pandai ekonomi. Karena tahu itulah saya jadi takut ekonomi kita nyungsep. ya taro duit di singapuralah sejak saat itu. Itu kode bahwa saya ngak percaya dengan pejabat ekonomi saat ini. Sejak 3 tahun lalu. Dan saya katakan di sosmed ini. Sejak 3 tahun lalu, lepas rupiah dulu, ora selamet keuangan nya nanti. Dah kejadian deh sekarang.
Jadi sebenarnya pejabat ekonomi indonesia itu adalah “liabilities” ya kalau begitu?
Ehhmm bagaimana ya jawabnya. Intinya sekarang kita sudah faham pelajaran liabilies dan denominator. Itu aja yang penting khan? Masih minat filosofi bisnis ?
Read more »
0 comments:
Post a Comment