Monday, 28 January 2019

Eka Tjipta



Eka Tjipta
Oleh Dahlan Iskan
Senin 28 Januari 2019
Janganlah melihat orang hanya saat suksesnya. Lihat juga perjuangan menuju sukses itu.
Hanya itu yang bisa saya simpulkan. Saat menulis naskah ini. Untuk menandai meninggalnya konglomerat Eka Tjipta Widjaja. Pada usianya yang 98 tahun. Pukul 19.43 Sabtu lalu.
Saya sudah sangat lama tidak bertemu beliau. Beliau memang sudah sangat lama tidak aktif.
Semua bisnis sudah diserahkan kepada anak-anaknya. Yang ternyata sangat mampu. Menjadikan grup Sinar Mas tetap yang terkaya di Indonesia.
Dari anaknyalah saya sesekali mendengar kabar tentang beliau. Misalnya saat beliau sakit. Atau saat baru sembuh. Setelah ganti seluruh tulang pinggulnya.
Pada usia 98 tahun baru meninggal. Betapa panjang usianya. Betapa jarang laki-laki yang bisa mencapai usia itu.
Saya masih bisa bertemu anaknya: Franky Wijaya. Yang menjadi pengendali grup usahanya. Atau Teguh Ganda Wijaya. Bos besar usaha bidang kertasnya. Yang menguasai dunia. Sering juga bertemu anaknya yang lain. Dari istri yang lain. Chandra, pemilik real estate besar di Surabaya: Pondok Chandra Indah.
Dengan Franky saya sesekali bertemu. Dalam bakti sosial Budha Tzu Chi. Sebuah agama yang melarang umatnya membangun rumah ibadah. Juga melarang umatnya sembahyang. Sembahyangnya adalah berbuat baik. Pada orang lain. Terutama pada orang yang lagi susah. Tempat ibadahnya adalah daerah-daerah miskin.
Agama itu berpusat di Hualian, pantai timur Taiwan. Saya sudah pula ke sana. Bersama Franky.
Franky sudah jadi konglomerat. Tapi tetap angkat-angkat karung saat bakti sosial.
Agama ini juga punya jaringan stasiun TV DAAI (baca: Ta Ai). Yang hanya menyiarkan kebaikan.
Saya beberapa kali bertemu Pak Eka Tjipta Widjaja. Di Jakarta atau di Surabaya. Pernah juga menjadi moderatornya. Saat beliau didaulat menjadi pembicara. Dalam sebuah seminar enterpreneur.
Saya juga pernah menulis satu buku kecil tentang Pak Eka. Yang terbit 30 tahun lalu. Saat umur saya masih 40 tahun. Dan usia Pak Eka masih 70 tahun.
Saya tidak pernah lupa cerita beliau. Tentang awal-awal memulai jadi pengusaha. Bahkan awal kehidupannya di Makassar. Saat umurnya baru 9 tahun.
Pada umur sekecil itu Eka ikut kapal. Dari daerah Hokkian. Mengarungi lautan bebas. Menyusul ayahnya. Yang sudah lebih dulu ke Makassar.
Sang ayah waktu itu sudah punya rumah. Meski dindingnya terbuat dari bambu (gedhek). Dan atapnya dari rumput. Mungkin maksudnya: daun rumbia.
Sang ayah sudah punya usaha kecil-kecilan. Toko sederhana. Eka tidak ingin sekolah dulu. Ingin membantu ayahnya.
Yang ia pilih adalah: menjajakan barang mirip yang ada di toko ayahnya. Ke kampung-kampung. Ia tidak mau hanya ikut menjaga toko. Tapi memilih 'jemput bola' ke rumah konsumen.
Masih kecil. Hanya bisa bicara Hokkian. Tapi sudah punya cara dagang yang berbeda.
Ketika umurnya 12 tahun ayahnya minta Eka sekolah. Di sekolah Tionghoa Makassar. Ketika ditest kemampuannya masih terbatas. Tertinggal dari umurnya. Eka harus memulai dari kelas satu.
Eka tidak mau. Ia ingin langsung kelas tiga. Ia sangat malu. Kalau harus satu kelas dengan anak umur 7 tahun. "Saya terus pegangi kaki kepala sekolah. Saya sembah. Saya ciumi kaki itu," ujar Eka.
Kepala sekolah iba. Eka dimasukkan kelas tiga. Tapi bahasa Mandarin pun belum bisa. Semua pesimis Eka akan bisa naik kelas.
Yang bikin guru jengkel adalah pemberontakannya. Terutama guru berhitung. Eka tidak mau ikut urutan pelajaran hitung: tambah-kurang-bagi-kali.
Eka selalu memulai dari kali-tambah-kurang-bagi. "Kalau belum-belum sudah dikurangi dan dibagi mana cukup," katanya mengenang.
Sampai-sampai guru menjintingnya. Memegang dua kakinya. Dijantur. Kaki di atas. Kepala di bawah. "Hayo, sekarang berjalanlah. Bisa nggak," bentak sang guru. Sambil terus memegang dua kaki Eka di atas.
"Tidak bisa. Ampun," teriak Eka.
"Nah begitu juga berhitung. Tidak bisa dibalik-balik," ujar sang guru. Seperti yang diceritakan Eka.
Tamat SD Eka tidak mau sekolah lagi. Logikanya: sekolah agar bisa bekerja. Saya harus bisa bekerja tanpa sekolah. Kalau siang untuk sekolah tidak bisa bekerja. Kalau siang untuk bekerja bisa sekolah malam.
Siang hari Eka bekerja. Hasil kerjanya untuk memanggil guru. Malam hari. Belajar di rumahnya. Ijazahnya memang hanya SD tapi pengetahuannya tidak kalah dengan tamatan SMA. Plus pengalaman kerja.
Setamat SD Eka mendatangi grosir. Ingin dipinjami biskuit 4 kaleng. Untuk dijual. Bayar setelah biskuitnya laku.
Tidak ada yang mau memberinya biskuit. Dianggap masih anak-anak.
Eka lantas menyerahkan ijazah SD-nya. Sebagai jaminan. Dapatlah ia 4 kaleng biskuit.
Dari toko yang ia ingat betul namanya: Ming Heng. Habis dalam dua hari. Uang pun disetor. Untuk ambil yang baru. Lama-lama ambil enam kaleng. Ijazah dikembalikan. Eka sudah mendapat kepercayaan penuh.
Eka lantas bisa membeli sepeda. Cukup untuk mengangkut enam kaleng biskuit. Omsetnya tidak pernah lagi naik. Kapasitas sepedanya terbatas 6 kaleng.
Omsetnya baru naik ketika Eka bisa membeli becak bekas. Yang tidak ada joknya. Khusus untuk angkut biskuit. Bisa 18 kaleng.
Eka membayar tukang becak. Lima gulden sebulan.
Dalam empat tahun ia bisa mengumpulkan tabungan 2.500 Gulden.
Ia minta ijin ayahnya. Memperbaiki rumah. Habis 1.000 Gulden.
Dinding bambu diganti dengan kayu. Atap daun diganti seng.
Sisanya ditabung. Ingin sekolah ke Tiongkok. Atau ke Hongkong.
Sambil mencari tambahan tabungan itu ia ikutkan arisan tender. Caranya: siapa yang mau memberi bunga tertinggi yang menang. Belum ada deposito waktu itu. Orang seperti Eka tidak akan bisa diterima bank.
Tahun 1941 Jepang masuk Makassar. Keadaan kacau. Ekonomi hancur. Tabungan itu hilang bersama yang menang tender.
Itulah kejatuhan pertama Eka. Masih remaja sudah merasakan ludes. Ia pun tidak tahu apa yang bisa dikerjakan. Di zaman perang seperti itu. Ia lebih banyak bermain di pantai Losari.
Saat duduk-duduk di bebatuan itulah ia kaget. Ada truk tentara yang membuang sampah. Di tanah tidak jauh dari pantai. Sampah itu bukan sembarang sampah. Tapi reruntuhan bekas perang. Barang-barang dari gudang yang terbakar: besi, kayu, karung-karung terigu, karung semen, seng dan sebagainya.
Tiap hari truk itu membuang rongsokan ke situ. Eka berpikir semua rongsokan itu bisa jadi uang. Tapi bagaimana mengangkutnya. Uangnya habis. Tabungannya ludes.
Tapi orang yang membuang rongsokan itu pasti perlu minum. Maka Eka mendirikan warung di dekatnya. Memasak kopi. Menyediakan meja kursi. Yang dibawa dari rumahnya.
Ternyata laku. Kopinya selalu habis. Lalu ibunya ia minta bikin ayam rebus. Ayam putih. Disajikan bersama kopi.
Ayam putihnya itu tidak laku. Ia panik. Modal beli ayam itu yang terbesar. Bukan kopi. Justru tidak laku.
Ia kepepet. Nekat. Ia datangi komandan Jepang. Ia minta mencicipinya secara gratis. "Saya beri sepotong saja. Tidak berani memberi banyak. Takut ayamnya habis tanpa mendapat uang," guraunya.
Harapannya terkabul. Sang komandan menyukainya. Anak buahnya membeli. Tiap hari ayam putihnya habis.
Tapi tujuannya bukan jualan ayam. Yang utama cari modal. Untuk bisa mengangkut rongsokan-rongsokan yang menggunung itu.
Halaman rumahnya pun penuh rongsokan. Juga tanah kosong di sebelah rumahnya. Besi-besi diluruskan. Seng-seng diratakan. Terigu yang kelihatan terbakar dibuka. Bagian luarnya dibuang. Terigu yang masih baik dikumpulkan. Karung dicuci. Dikeringkan. Untuk mewadahi terigu yang masih baik.
Semen-semen yang sudah membatu ditumbuk. Yang masih baik dikumpulkan. Dikarungi lagi.
Persoalannya: terigu bekas harganya murah.
Maka Eka mempelajari cara menjahit karung. Yang bisa sesempurna jahitan pabrik. Agar dikira semuanya masih baru.
Ia beli jarum di toko. Ia praktekkan cara menjahit karung yang baik. Berhasil.
Terigu ia jual. Setiap hari. Semen tidak ia jual. Tunggu momentum. Toh dari jualan terigu sudah cukup untuk bisa hidup.
Lalu ia pelajari: untuk apa orang beli semen. Ternyata banyak yang dipakai untuk membangun kuburan. Kuburan Tionghoa.
Eka pun mencari siapa tukang makam terbaik. Ia ajak joint. Ia beri 'saham' 20 persen. Hasilnya menggembirakan. Dalam setahun bisa membangun 8 makam. "Bagian depan makam dekat bandara Makassar itu saya semua yang bangun," katanya.
Nilai semennya lebih tinggi daripada dijual dalam bentuk semen.
Dari bisnis barang rongsokan itu Eka bisa menabung Rp 20.000. Waktu itu harga sebuah rumah tembok Rp 1.000. Stock rongsokannya pun habis.
Eka lantas ingin bisnis minyak goreng. Ia sudah tahu di mana pusat penghasil minyak goreng: Selayar. Sebuah pulau di Selatan Sulawesi. Perlu naik kapal satu malam penuh untuk ke sana.
Ia pun berangkat. Semua tabungan dibawa. Diikatkan di pinggang secara merata. Ia tahu tidak bisa beli secara utang. Harus kontan.
Di Selayar ia bisa kulakan 4.000 kaleng minyak goreng. @18 liter. Ia mendapat diskon 20 persen. Karena membayar kontan.
Ia mabuk. Tidak mampu berdiri.
Pun waktu kapal sudah tiba kembali di pelabuhan Makassar. Ia harus pegangan tiang listrik dulu. Lama. Sebelum bisa berjalan tegak. "Mabuk tapi hati sangat gembira. Semangat sekali," katanya.
Baru beberapa hari di Makassar keluarlah peraturan pemerintah Jepang. Penjualan minyak goreng hanya boleh dilakukan pihak Jepang. Milik swasta harus diserahkan. Dengan harga dipatok. Rp 1,5/liter.
Eka Tjipta, yang waktu itu namanya masih Ek Tjhong, bangkrut untuk kedua kalinya.
Masih muda sudah merasakan 'jatuh' dua kali.
Hidup pun susah. Untuk semua orang. Berbulan-bulan tidak makan roti. Bukan tidak punya uang tapi sulit mendapatkan roti. Beli roti harus antre. Satu orang dibatasi maksimal dua roti.
Hari itu ia sangat ingin beli roti. Ia antre. Beli dua. Tapi hanya diberi satu. Ia marah.
Tetap tidak diberi. Ia lemparkan roti yang di tangannya ke muka penjualnya.
Ia ngeloyor pulang. Hatinya mendidih. Dendam. Tekadnya bulat: ingin bikin pabrik roti.
Berhari-hari ia cari tahu: siapa juru masak pabrik roti itu. Ia datangi rumahnya. Ia bawakan oleh-oleh untuk istrinya. "Kalau saya tidak bawakan oleh-oleh bisa-bisa tidak boleh masuk rumahnya," katanya bergurau.
Langsung ia tawarkan gaji dua kali lipat. Dari Rp 15 ribu sebulan ke 30 ribu. Tawaran diterima dengan senang. Tapi baru bisa bulan berikutnya. Ia tidak mau kehilangan gaji sebulan itu.
Eka tidak sabar. Dendamnya masih membara. Langsung saja dikeluarkan jurus pamungkasnya: ia bayar gaji yang sebulan itu.
Pabrik rotinya maju.
Tapi sulit mendapatkan gula.
Beli gula harus antre. Satu orang hanya boleh antre untuk 1 kg.
Eka mencari pengantre bayaran. Tujuh orang. Satu bulan bisa mendapat 10 ton. Eka pun merinci. Berarti satu orang antre di 40 tempat sehari.
Eka menjadi kaya kembali. Ia berani membeli mobil. Rp 70 ribu harganya. Tapi harus inden. Mobilnya baru tiba enam bulan kemudian.
Saat itulah temannya kesusahan. Perlu uang. Menyerahkan mobilnya. Hanya dengan harga Rp 30 ribu. Jadilah Eka punya dua mobil. Menjadi orang yang sangat terpandang.
Waktu meninjau bekas sekolahnya dulu sang kepala sekolah sendiri yang membukakan pintu mobilnya. Eka banyak menyumbang ke sekolah itu.
Lalu terjadilah perang kemerdekaan. Keadaan kacau. Jalur logistik putus. Pasukan bahan baku macet. Eka bangkrut lagi. Untuk ketiga kalinya.
Sekali lagi Eka tidak mau meninggalkan utang. Ia sangat yakin kepercayaan adalah modal terpenting. Dengan kepercayaan ia yakin pasti bisa bangkit lagi. Kelak.
Ia jual yang bisa dijual cepat. Termasuk dua mobil kebanggaannya. Ia kembali naik sepeda.
Saat bangkrut yang ketiga itulah Eka merasa sangat sakit. Bukan soal hidup susah lagi. Tapi soal harga diri. Orang yang dulu membukakan pintu mobilnya pun tidak mau menyapanya lagi. Bahkan melengos saat disapa. Ia sampai malu keliling Makassar dengan sepedanya. Ia merasa semua jari menuding ke mukanya.
Eka tidak tahan lagi. Dirinya merasa terhina. Ia pun minggat dari Makassar. Menuju Malino. Daerah pegunungan sekitar 60 km dari Makassar. Ia menghabiskan waktu di situ. Dengan membaca. Ia memang gemar membaca.
Enam bulan Eka retreat di Malino. Barulah hatinya dingin. Ia kembali ke Makassar. Ingin mengerjakan apa yang bisa dikerjakan.
Waktu itu, awal 1950, TNI mengerahkan banyak pasukan ke Makassar. Untuk menumpas pemberontakan Andi Aziz. Dan Kahar Muzakar. Tentara kekurangan logistik. Para pedagang tidak mau menjadi pemasok. Khawatir pembayarannya macet.
Eka mendengar itu. Mau. Satu-satunya yang mau jadi pemasok. Ia punya logika sendiri. "Ini kan tentaranya pemerintah. Pemerintah sendiri. Sudah merdeka. Pasti punya uang. Kalau pun tidak kan bisa cetak uang. Kan negaranya sendiri," pikirnya.
Eka kembali akan mengandalkan kepercayaan. Sebagai modal utamanya. Ia datangi perusahaan dagang negara. Peninggalan Belanda. Seperti Geowehry. Ia minta barang. Bayar belakangan. Minta waktu dua minggu. Seperti pembayaran yang dijanjikan tentara.
Ternyata dua minggu tidak ada pembayaran. Satu bulan tidak ada. Satu bulan setengah juga tidak. Eka datang ke Geowehry. Minta maaf. Menceritakan apa adanya. Membawa semua berkas dan tagihan. Ia ceritakan apa adanya. Tidak ada yang disembunyikan.
Setelah lewat dua bulan pembayaran cair. Sekaligus. Banyak sekali. Eka menjadi banyak uang lagi. Utangnya pun lunas.
Eka menjadi akrab dengan tentara. Tentara juga begitu. Merasa Eka orang yang berjasa. Kesempatan pun terbuka. Eka boleh memanfaatkan kapal tentara. Yang pulang ke Makassar dalam keadaan kosong. Setelah mengirim tentara ke Manado.
Eka pun memuatinya dengan kopra. Yang melimpah di Manado. Dengan harga murah. Ia jual di Makassar. Dengan harga tinggi.
Jadilah Eka pedagang kopra. Ia sering pergi ke Manado, Palu, Toli-toli, Maluku. Pusat-pusat kopra ia kuasai.
Ia pun sudah berani carter kapal. Untuk kirim kopra dari Manado ke Surabaya dan Jakarta. Jaringan dagangnya kian luas.
Suatu saat ia sudah mengumpulkan 3 ribu ton kopra di Manado. Ia carter kapal besar dari Jakarta. Untuk ukuran saat itu.
Ketika kapal tiba pecahlah pemberontakan Permesta. Terjadi perang. Eka menyelamatkan diri. Kopra 3 ribu ton ia tinggal. Kapal carterannya kembali ke Surabaya hanya membawa dirinya.
Eka bangkrut untuk keempat kalinya.
Ia tidak mau lagi tinggal di Makassar. Ia ingin pindah Surabaya. Di daerah yang lebih aman. Yang memungkinkan bisnis berkembang.
Di Surabaya Eka ditampung di kamar temannya. Ukuran 2 x 3 meter. Ia hanya membawa modal kepercayaan. Dan nama baik.
Ia pun menghadap Pangdam Brawijaya, Mayjen Basuki Rahmat. Diijinkan pula mengisi kapal tentara dengan barang dagangannya. Kapal itu berangkat ke Sulawesi membawa bahan makanan. Balik ke Surabaya kosong. Hasilnya dibagi dua: tentara mendapat 25 persennya.
Di Surabayalah Eka berkembang pesat. Dengan pabrik minyak kelapanya. Dari Surabaya merambah Indonesia. Tidak pernah bangkrut lagi.
Waktu saya berumur 40 tahun saya bertanya pada Pak Eka: Apakah masih membayangkan bahwa suatu saat akan bangkrut lagi. Untuk kelima kalinya.
"Sekarang sudah tidak mungkin lagi bangkrut. Sudah terlalu besar untuk bisa bangkrut," katanya.
Itu tahun 1992. Diucapkan di Surabaya. Kepada saya.
Saat itu Pak Eka sudah menjadi orang terkaya kedua di Indonesia. Setelah Liem Soe Liong. Pabrik minyak gorengnya sudah yang terbesar di Indonesia. Pabrik kertasnya terbesar di Asia. Bisnis Grup Sinar Mas sudah merambah ke segala arah.
Saya pernah ke Ningbo. Sudah ada Bank International Ningbo. Miliknya. Saya ke Suzhou. Sudah ada pabrik kertas sangat besar di sana. Saya ke Shanghai. Gedung pencakar langitnya sangat menonjol di pusat kota Shanghai.
Waktu mengucapkan 'tidak mungkin lagi bangkrut' kelihatannya Pak Eka tidak membayangkan: bakal terjadi krisis moneter delapan tahun kemudian. Saat itu utang Sinar Mas mencapai sekitar Rp 110 triliun. Kepada lebih 60 bank. Di lebih 40 negara.
Yang menagih pun sampai kesulitan. Untuk berunding pun sulit. 60 bank dan 40 negara harus setuju. Caranya maupun pembagian hasil penagihannya.
Sampai-sampai utang itu distensil. Dibekukan. Ini membuat Sinar Mas kembali jaya. Semua hasil penjualannya bisa untuk menggerakkan operasionalnya. Tanpa mikir nyicil utang.
Memang Sinar Mas sempat kehilangan Bank International Indonesia. Tapi Pak Eka benar: sudah terlalu besar untuk bisa bangkrut.
Sabtu lalu Pak Eka meninggal dunia. Meninggalkan semua itu. Tapi juga meninggalkan pelajaran bisnis yang luar biasa berharga.(dahlan iskan)

Read more » 0 comments

Sunday, 27 January 2019

Rezeki dan Magnet Uang


Apapun yg anda defenisikan dlm hidup anda akan mempengaruhi pilihan takdir anda , dan itu yg kita namakan Nasib , nasib adalah pilihan takdir anda dlm ukuran yg ditentukan . sedangkankan takdir adalah pengetahuaan Allah akan kemungkinan .

rezeki adalah apa yg anda peroleh baik yg diusahan atau tidak , ia berbentuknya jamak namun secara hakikat tentu makna rezeki berbeda dengan rezeki yg tampak
apa yg antum makan apa yg antum pakai dan apa yg antum sedekahkan itu hakikat rezeki ..selebihnya itu bukan rezeki antum
Jika kita berbicara tentang yg tampak rezeki salah satu adalah uang , uang yg dapat anda miliki uang yg akan memenuhi kebutuhan dan keinginan anda .


ada Guru guru spritual kita yg menghubungkan rezeki dengan iman dan amalan 2 tertentu , itu pun benar namun bisa jadi tidak sepenuh nya benar karena fakta orang yg berbeda keyakinan dengan kita pun bisa menikmati ke kekayaan .
ada pula yg Guru guru kita mengatakan bahkan boleh jadi tidak ada hubungan kemampuaan mendatang uang dengan iman dan ritual agama. pendapat ini kuat dan di dukung fakta bahwa dr berbagai agama semua orang bisa kaya , bahkan tidak beragama pun bisa kaya , itu logiknya bahwa allah menetapkan sebuah sistim maka ikutilah , ini yg kita kenal dengan nama" Sunnatullah "
Walapun bisa di bilang rezeki (uang) bukanlah matematik ilmu pasti namun dengan memodeling cara cara yg telah berhasil maka kemungkinan besar dan berpeluang besar kita memperoleh hasil hal yg sama .
tidak menyerah dan tidak berhenti , selalu berkembang dan cepat dan tepat dalam belajar di pastikan akan mempermudah mendatang kan rezeki ( uang) yg bermuara ke MAGNET REZEKI
Bagi anda yg percaya Rezeki adalah "GOD made" namun kondisi sekarang anda mengalami kesulitan keuangan percayalah getaran itu itu cocok bagi anda . getaran anda tidak diterima alam semesta .jika anda mengingkankan kaya .

dan bagi anda pun yg percaya dan mengimani rezeki" Man made "dan benar anda sedang berkelimpahan namun tidak mendatang kan kebahagian dan kebaikan maka upgrade lg secara spritual anda analisa dan perbaiki cara mendapatkan , memanfaatkannya dan menggunakannya .

Hidup ini banyak layer dan lapisan lapisan termasuk dalam mendatang rezeki . ada syariat ada hakikat maka tempatkan ia pada tempat nya itu yg kita nama kan Adil .
bukan kah Allah menyukai Orang 2 berbuat adil ?
Ya Fattah
Ya Razzaq
Anugrahi lah kami keberkahan rezeki yg berdampak luas
Read more » 0 comments

Friday, 25 January 2019

Mati dan Kebaikan

Mati dan Kebaikan



Suatu hari saya membaca dan mendengar salah satu dedengkot Politisi indonesia "Akbar Tanjung" Berkat "Politisi bisa mati terbunuh berkali kali " hal ini bermakna seorang Politisi bisa bangkit dr kematiaan dan hidup kembali yg bermakna juga hidup berkali bukan hanya mati berkali kali
Kata itu menghujam dlm jantung dan merasuk dlm dada , hidup ku terbiasa di hutan belantra diantra ombak ,tsunami dan riak pun berkata " seorang Pengusaha pun sangat bisa terbunuh berkali kali dan bangkit lagi , hidup lagi ,terbunuh lagi dan hidup lagi semua itu bagaikan lingkaran yg tak pernah putus .
namun......suatu saat semua pasti berakhir ini buka hanya soal terbunuh mati dan bangkit

hakikat nya ujung dr semua itu adalah amalan amalan kebaikan kebaikan yg kita toreh di muka bumi ini selayaknya lebih panjang dr umur kita

itu lah kita sebenarnya ..itu lah sebenarnya tujuaan Penciptaan kita .

benar kata  ulama terdahulu " orang yg pendek umurnya  adalah orang yg panjang umur namun amalan nya tidak ada ,sedangkan  orang yg panjang umurnya , walupun pendek umurnya namun amalannya kebaikannya melampaui usianya ."
Ya Rahman Ya Rahim Anugrahkan kepada kami kebaikan kebaikan yg kami tanam melampaui umur kami
#coretandinding
Read more » 0 comments

Tuesday, 22 January 2019

Memahami Apa yg disampaikan " Prabowo "" Jateng lebih besar dari Malaysia"



Pada debat Presiden putaran pertama dalam suatu sesi " Prabowo "mengatakan

"Sebagai contoh, bagaimana bisa seorang gubernur gajinya hanya Rp 8 juta? Kemudian dia mengelola provinsi umpamanya Jawa Tengah yang lebih besar dari Malaysia dengan APBD yang begitu besar,"

hal ini menjadi masalah kita media yg selama ini kita mengetahui posisi mereka terhadap Probowo  blow up  dengan framing mereka yg mengarahkan pada kata "luas " padahal jelas makna besar adalah suatu kata yg mengandung multi tafsir ,framing media bertujuaan  yg ending mengarah pada kesimpulan Prabowo suka menebar hoax



coba kita bahas makna apa yg disampai oleh Probowo dengan beberapa sisi yg tentunya dengan "akal sehat "

1. KBBI daring 

besar bermakna 

  1. a lebih dari ukuran sedang; lawan dari kecil: batang kayu ini sangat -- sehingga tidak sanggup tanganku memeluknya
  2. a tinggi dan gemuk: badannya --
  3. a luas; tidak sempit: rumahnya --
  4. a lebar: sungai itu sangat --
  5. a ki hebat; mulia; berkuasa: jika menjadi orang --, jangan suka sombong
  6. a ki banyak; tidak sedikit (tentang jumlah): gajinya --
  7. a ki menjadi dewasa: ia lahir di Surakarta, tetapi -- di Jakarta
  8. a ki lebih dewasa daripada sebelumnya: sekarang ia sudah --
  9. a ki penting (berguna) sekali: ajaran agama itu -- artinya bagi pembentukan watak
ketika probowo mengatakan " Jawa Tengah yang lebih besar dari Malaysia " maka tentunya akan bermakna atau berarti salah satu atau beberapa makna dr 9 poin yg ada di KBBI  daring , jika kalimat tsb tunggal . tetapi  jika teks tsb ada ko teks , dan ada konteks maka kejeliaan dalam menangkap makna yg disampaikan oleh sumber pengucapnya akan bisa kita tangkap dengat tetap sehingga tidak terjadi kesalahan pahaman dalm berkomunikasi .

2. Teks ,Ko teks , Konteks 

teks yg   (1) satuan bahasa terlengkap yang bersifat abstrak, (2) deretan kalimat, kata, dan sebagainya yang membentuk ujaran, (3)  ujaran yang dihasilkan dalam interaksi manusia.
dan yg disampaikan Probowo adalah Jawa Tengah yang lebih besar dari Malaysia  kalimat ini yg menjadi masalah 

Ko teks  adalah kalimat atau unsur-unsur yang mendahului dan/atau mengikuti sebuah unsur lain dalam wacana.Koteks merupakan teks yang mendampingi teks lain dan mempunyai keterkaitan dan kesejajaran. Keberadaan teks yang terkait dengan koteks terletak pada bagian depan (mendahului) atau pada bagian belakang teks yang mendampingi.

kalimat Utuhnya " Sebagai contoh, bagaimana bisa seorang gubernur gajinya hanya Rp 8 juta? Kemudian dia mengelola provinsi umpamanya Jawa Tengah yang lebih besar dari Malaysia dengan APBD yang begitu besar,"" 
Koteks adalah   bagaimana bisa seorang gubernur gajinya hanya Rp 8 juta dan  Malaysia dengan APBD yang begitu besar,"" 

arti ucapan  Prabowo 
  1. Membandingkan Gaji  Gubernur dengan Perdana Menteri 
  2. Membandingkan APBD Jateng dengan APBN Malaisyia 
silakan cek saja perbanding dengan data yg mudah kita dapat dr MBAH GUGEL 


3.Konteks adalah debat Presiden tentang gaji Aparatur Negara 

Jika melihat dr teks dan ko teks dan Kontek maka disimpulkan terjadi perbandingan yg tidak tepat sehingga menimbulkan perbedaan tafsir dan hasil .  perbandingan tsb adalah Provinsi dan Negara , hasilnya tentu akan berbeda jika Probowo menyebutkan salah satu provinsi di Malaysia .

3.Sumber Utama  yg mengucapkan Informasi 

ketika  Jawa Tengah yang lebih besar dari Malaysia  , diucapkan dalam sebuah debat yg berlangsung sangat cepat ,  dan tentunya dalam tekanan  ditonton  jutaan Rakyat indonesia tentunya pula kesalahan sangat dimaklum terjadi , atau hal hal yg multi tafsir pun bisa terucap . cara yg tetapdlm mengecek ucapan multi tafsir dan memastikan sebuah makna dr ucapan  adalah mengecek kesumber asal nya . 

dalam sebuah media Probowo melalui Direktur Materi dan Debat Pasangan Prabowo-Sandi, Sudirman Said 
 "maksud Prabowo bukan dilihat dari luas wilayah, tetapi jumlah penduduk. “(Pernyataan Prabowo) bukan luas wilayah, itu soal ukuran penduduk besarnya. Itu kan bisa diukur dari luas, bisa diukur dari kompleksitas masalah. "

kesimpulan jika dilihat dr luas wilayah tentu Malaysia lebih luas  namun dr jumlah penduduk  maka jateng lebih banyak , namun jika diukur dr Kompleksitas pastinya akan menimbulkan perbedaan tafsir dikalangan yg  memahami karena membandingkan Sebuah Negara dengan Sebuah Provinsi tentulah tidak mudah dengan ketiadaaan ukran ukuran tertentu .


Jika kita kaji hal diatas bahwa terjadi perbedaan pemaham antara pemberi Informasi/sumber informasi  dan yg menerima informasi tentu dipengaruhi tingkat IQ  , kepentingan ,emosi,budaya  terhadap apa yg diucapkan  dengan bisa mengabaikan akal sehat .
namun jika kita menggunakan metode metode diatas maka  jangan pernah memonopoli kebenaran Tafsir , cara yg paling shahih  untuk memahami sebuah informasi adalah  menanyakan langsung kepada  sumber  utama ucapan atau teks tsb

3 contoh dibawah ini menambah wawasan kita tentangsebuah teks yg dapat menimbulkan  multitafsir 


Contoh 1 

Gambar ini diambil di sebuah kedai Kopi 




















Contoh 2

Uang di kiri lebih luas dari pada uang di kanan.
Tapi kita menyebut uang di kanan lebih besar dari pada uang di kiri. 
Kebangetan kalo masih kagak ngarti..







Contoh 3 
Jika mereka anak saya  dan saya mengatakan
A >B
dengan data 
A : berat 100 kg umur 25 tahun
B : Berat 50 kg Umur 30 tahun
manakah yg benar ?

















akhir kata   ada sebuah doa   yg harus kita ucapkan di zaman yg penuh hoaks 

"Ya... Khabir 
selalu Anugrahkan kepada jiwa kami 
Critical Thinking ,reading comparenship"
Read more » 0 comments

Monday, 21 January 2019

Stoploss dan Cut Profit

Q: Apa bedanya stoploss dengan cutprofit?
A: Perbedaan keduanya adalah stoploss terjual dalam kondisi masih rugi dan cutprofit terjual dalam kondisi untung. Persamaan antara stoploss dan cutprofit adalah sama-sama proteksi atau batasan penurunan maksimal untuk hold sebuah saham atau istilah lainnya trailing stop. Jadi apabila sebuah saham menyentuh level stoploss dan cutprofit sistem akan otomatis menjual diharga tersebut dan mengabaikan setelahnya apakah saham tersebut naik kembali atau turun lanjut karena saham tersebut dianggap keluar dari plan.
Misal: instruksi beli saham AAAA di 100 didalam trading plan stoploss awal di 90 dengan target 130. Kemudian saham naik ke 110,
Skenario pertama: ada instruksi stoploss dinaikan di 98. Jika saham turun di 98 maka harga terjual otomatis. Alhasil masih rugi karena terjual dibawah harga beli.
Skenario kedua: harga naik lanjut ke 120 sehingga stoploss dinaikan dari 98 menjadi 105. Stoploss berubah nama menjadi cutprofit karena 105 lebih tinggi dari 100 (harga beli). Apabila harga turun di 105 sistem akan menjual secara otomatis. Alhasil posisi terjual untung tapi tidak sesuai target
*** Perlu diketahui di era digitalisasi sebuah sistem autosell adalah alat yang sangat penting untuk diterapkan untuk memproteksi dana dari kerugian tak terkontrol yang disebabkan oleh faktor psikologi manusia yang sering terlambat, lalai atau emosional. Jika anda belum menggunakan segera gunakan, jika sistem trading anda belum menyediakan menu cari sistem lain atau OLT lain yang menyediakan karena proteksi adalah sabuk pengaman.

Read more » 0 comments

Waktu dalam Trading

Q: Apa itu duration?
A: Duration atau durasi adalah indikator yang berisi informasi panjangnya waktu yang dibutuhkan untuk trading pada sebuah saham sesuai dengan trading plan. Duration juga bisa berarti deadline penjualan.
Berikut durasi sesuai trading plan:
Day Trading: <1 hari berarti durasi atau waktu yang dibutuhkan untuk trading hanya satu hari saja. berlaku pada saham yang trading plannya adalah day trading
Swing Trading: <20 hari berarti durasi atau waktu yang dibutuhkan untuk trading adalah lebih dari satu hari sampai dengan 20 hari kerja. berlaku pada saham yang trading plannya adalah swing trading
Position/following Trend Trading: >20 hari berarti durasi atau waktu yang dibutuhkan untuk trading adalah lebih dari 20 hari kerja atau sampai dengan tren naik berakhir. berlaku pada saham yang trading plannya adalah position trading
Contoh: Jika ada 2 trading plan yang berbeda pada sebuah saham misalkan saham AAAA trading plan swing/position: durasi trading saham AAAA menjadi kurang dari 20 hari kerja atau lebih dari 20 hari kerja sampai dengan target jual tercapai.
Duration terdapat didalam trading plan stockcall dan watchlist sebagai petunjuk estimasi waktu yang dibutuhkan untuk hold sebuah saham dan blotter sebagai catatan waktu penyelesaian trading pada sebuah posisi.
Read more » 0 comments

Wednesday, 16 January 2019

POLIGAMI




Hari ini Dimasjid diumumkan tetangga ada yg meninggal. Ia bos konvensi yg cukup sukses dan kaya. Toko di cipulir saja ada lima ,penjahit aja ada 20 dr sisi itu menandakan usaha sukses  dan ia orang sukses 

.
Dia kabarkan meninggal karena kecelakan dan mayit di bawah ke rumah kakak nya dekat dengan rumah nya . Lantas datang lah seorang wanita muda dan seorang  anak menangis memeluk tubuh..
Tiba2  perempuan tsb dibawa ke mobil dan dibawa pulang karena istri datang membawa mayit suami ke rumah duka 

Sekitar Tahun 1990 di kampung ku buya panggilan kakek ku datang ke umi (nenek) hal ini disebabkan  buya mulai sakit gulo (diabet) umi dengan ikhlas merawat nya memandikannya bahkan membuang pup.. Kadang kala pup dioleskan ke tubuh nya kadang kala ketembok kadang kala mungkin ia oleskan ke mulutnya. dan itu dilakuan bertahun lamannya 

Kejadiaan terekam jelas dlm ingatan ku walaupun telah berpuluh tahun yg lalu bahwa suatu saat kita bisa lemah dan sangat lemah bahkan untuk membuang kotoran kita saja kita tak sanggup.......sedangkan yg merawat kita  mungkin adalah orang yg kita sakiti hati nya 

 Ampuni kami ya rabb yang bergelimang dosa 

Ketika  buya di panggil(wafat)  madunya (istri buya) datang melayat dan melihat terakhir kalinya... Suara sinis yg ku tangkap pada waktu itu, dr percapakan emak emak ... Madu istri muda tidak baik lah posisinya., minimal didaerah dan waktu itu 

Tak usah sebut bapak ku ia Donjuan istri banyak.. Namun diakhir hayat nya ia tak bersama istri nya apalagi anaknya .,tak ada satu pun istrinya yg menemanninya . Ia memilih pulang kampung dan rawat adik2 nya karena sakit  sampai ia ajal menjemputnya

Poligami seakan jelas dan bagiaan hidup ku... Kadang kala ingin rasanya berpoligami dengan pembenaran sunnah padahal jika digali lebih dalam nafsu lah yg membuat semua itu.
Semua dalil disiapkan dibenturkan antara yg memperbolehkan atau tidak. Kesimpulannya boleh dan tidak.
Namun yg  jelas pula perempuaan yg kunikahi sampai saat ini tak ada kurang nya ia "sempurna sebagai Wanita " ..jika aku tergoda berpoligami maka Nafsu ku lah yg didahuli., giga maju lah yg aku utamakan tanpa melihat gigi Mundur nasehat temaku pada suatu waktu .


Maka sering pula ku panjatkan doa "ya Rabb lindungi lah syahwatku ini yg bisa menghinakanku dan membuatku berlaku tidak adil sungguh aku takut  "

Ada suatu bayangan  yg begitu melekat dalam bawah sadarku jika aku berpoligami yg tidak mendapat restu istri pertama ,ketika ku mati dimanakah mayit ku di letakan kan ?
Istri pertama atau kedua? Jika istri pertama otomastis istri kedua tak akan berani datang begitu sebalik.. Atau jika datang maka keributanlah yg ada... saling cakar cakar karena jelas diam diam bae dan tak ada restu .
jujur ..............

Aku tak sanggup berbuat adil dan itu tak kusukai
Akupun menimbulkan atau sumber keributan itu pun tak kusukai

Akhir kata, nasehat dr Guru yg kita muliakan  menjadi renungan malam ini yg sangat  mendalam bagi kita
begini  penggalan kalimatnya  "Hemat saya seorang suami yg ingin bahagia dlm perkawinannya... Karena kasih nya pada istrinya menghalangi ia berpoligami karena itu jelas menyakitkan dan membuat menderita  istrinya... 
Sedangkan 
CInta Istri nya kepada suaminya memperbolehkan poligami terjadi jika pernikahannya wajar dan diperbolehkan oleh syariat dengan alasan yg ketat. ( prof Quraish  shihab)

Ya Rahman ya Rahim
 lindungin lah syahwat kami yg hanya akan membawa kehinaan dan ketidak adilan .... Amin
Read more » 0 comments

Copyright © A. FAISAL 2010

Template By annifaisal