Thursday, 27 September 2018

ILHAM ITU PESAN ALLAH BUKAN YA...


Dalam sebuah diskusi dengan beberapa teman selasa kemarin sampailah kami pada topik “pensiun di dunia swasta dan menjadi filantropi”. Salah satunya mendiskusikan Jack ma yang tahun depan akan mefokuskan diri ke bidang edukasi mengikuti jejak mentor dan investor alibaba pujaan jack ma si bill gates dengan gerakan edukasi kesehatan bill melinda gates foundation. Jack ma pensiun.

Sejak dari diskusi tersebut hingga 2 malam saya melamun. Ternyata di antara niat manusia terbanyak ketika berkecukupan sudah terpenuhi, ternyata memberikan ilmu edukasi adalah mimpi dari banyak filantropi.
Ini cukup menggangu saya.

Mengapa? Karena merubah roadmap yang saya bangun. Ketika di tahun 2017 saya tahu kemana arah ekonomi indonesia maka saya katakan bahwa tahun depan saya main di retail dan mengalihkan dari bisnis korporasi dunia engineering construction manufaktur di midstream dan downstream oil and gas yang saya geluti 20 tahunan.

Geser ke retail dan hibernate di dunia tersebut sampai dunia ekonomi nasional berpihak ke swasta kembali. Efek BUMNIsasi yang saya teriakan sejak 3 tahun terakhir mulai berimbas pada keringnya dolar dan sekarang di hentikan lebih dari 50% proyek infrastuktru yang harusnya sejak tahun lalu di hentikan. Cukup lah buat etalasenya jangan kegedean.

Komunitas bisnis swasta di kelas atas dan menengah yang stagnan memang tidak di rasakan pengusaha retail atau di kelas bawah, kelas C. Komunitas bisnis A kelas midstream dan downstream yang merupakan proyek strategis memang tidak banyak, pengusahanya.

Kalau di lihat lebih dalam memang bisa 2 kali lipat bisnis bisnis A dan B di banding bisnis retail kelas C kalau di jumlah secara volume atau nilai uang. Itu sedikit ilustrasi membandingkan kekuatan bisnis kelas A dan B di banding retail di kelas c.

Namun pemainnya (manusia yangterlibat) hanya 5% dari seluruh pewirausaha swasta. Jadi tidak teelalu mempengaruhi “popular vote”. Sekencang apapun teriak ya ngak kedengar dan juga rata-rata pemain tersebut adalah “global player” faham sekali meletakan uang di luar negeri untuk “saving for a rainy day”, alias ya tetap berduit lah.

Contoh seperti “creazy rich surabayan” misalnya ya duit di “kantongnya dalam” kerena tidak pengaruh terhadap dunia turun naik bisnis. Bisnisnya mungkin turun tetapi mereka tetap tidak miskin. Mereka bisa saja terdengar komentar mereka : itu tadi mobil apa ya yang kita beli? Atau ini bagus banget produknya jadi kita beli saja perusahaannya

Kembali ke filantrofi yang saya kepikiran. Seperti mengharuskan saya selaku pribadi ingin lebih serius hanya bukan berlandasan “income” tetapi lebih ber kontribusi. Ingin mengatur sistem organisasi dimana di bentuk organsasi baru.

Semacam holding dari “giving back”, saya kepikir bahkan RYI rumah yatim indonesia berada di bawahnya. saya kepikiran membangun organisasi sosial dimana salah satu kontributor adalah keuntungan dari usaha mengajar publik. 100% keuntungan tersebut untuk organisasi sosial.

Sampai saat ini saya masih melakukan “self talk” apa struktur terbaik, kapan memulainya, bagaimana ada 2000 rumah ZIS RYI zakat infak shodaqoh outlet di seluruh indonesia menambah outlet yang ada dalam 3 tahun kedepan?.

Bagaimana pendanaan diluar pemberian orang lain tetap dengan swadaya dan swadana. Bagaimana meluaskan kontribusi secara sosial. Tanpa menunggu waktu pensiun tetapi secepatnya.
Dalam “me time” saya, saya terus memikirkan hal ini. Dan saya tahu kalau hal ini sedang merasuk pikiran saya, bisa mendominasi 24 jam hidup saya sampai mengurai dan menjadi “workable”. Kalau belum ya kayak begini, gelisah ingin berkontribusi lebih. Kalau di pikir-pikir, saya ini no body. No body sontoloyo kok mau berkontribusi lebih hahaha.
Read more »

0 comments:

Post a Comment

Copyright © A. FAISAL 2010

Template By annifaisal